Wednesday, June 6, 2012

Ekspresi Wajah dan Nada Ketika Berbicara

"Ekspresi wajah saya memang seperti ini. Jangan tersalah sangka, saya tak marah pun..."
Pernahkah anda mendengar ungkapan seperti ini? Oh, ia sepertinya sama sekali tidak benar.

- Biasanya dalam keadaan normal ekspresi wajah akan mengambarkan perasaan kita. Semestinya orang ceria berbicara dengan riang, manakala yang sedih bicaranya acuh tak acuh.

- Bahkan sebaliknya, kita harus sedaya upaya senyum (ceria) ketika berbicara, mencontohi perihal kelakuan nabi s.a.w tatkala berinteraksi dengan para sahabatnya. Abdullah bin Al-Harith meriwayatkan “Tidak pernah aku melihat seseorang yang lebih banyak tersenyum daripada Rasulullah s.a.w." Hadith sahih: Diriwayatkan oleh Imam Al- Tirmidzi. Akhlak baginda yang sedemikian, sebenarnya secara tidak langsung membantu usaha dakwah Islam.

- Berdasarkan pengalaman peribadi, umumnya, apabila kita senyum kepada seseorang ketika bertemu jarang sekali orang tidak membalasnya kembali. Walaupun tatkala emosi orang tersebut tengah gundah-gulana. 

- Ini kerana ekspresi wajah yang tersenyum riang menggambarkan kita gembira meraikan kehadiran insan yang datang bertemu. Sebaliknya, ekspresi wajah yang senantiasa kelihatan tegas, akan menyebabkan orang terasa ada halangan dan sukar untuk diajak bicara. Lagi pun, melazimi ekspresi wajah tegas menyebabkan penampilan seseorang itu kelihatan tua, seolah lebih dari usia.

- Kerana senyum, kita mampu menceriakan dan turut sekali menghiburkan. Ketika kita berjumpa dengan seorang bayi atau kanak-kanak kecil, sambil tersenyum dia menghadapkan wajahnya kepada kita. Pada keadaan manusia normal, kita pasti akan tersenyum kembali. Amat jarang yang tidak senyum kembali. 

- Sebenarnya untuk kita berekerut dahi lebih susah berbanding tersenyum dan lebih dari itu, ia percuma! Kunci mudah untuk berjaya dalam bermuamalah sesama insan. Kerana yang datang berinteraksi pasti menyenangi. 

Secara Fitrah Manusia Suka Orang Yang Merendah Diri

Tidak ada dikalangan kita mahu mendengarkan kata-kata orang yang menyebabkan kita marah dan lagak bicaranya membangga diri. Itu pada kebiasaannya.

Oleh karena itu, sikap kasar dan berlagak dalam berbicara merupakan perkara yang dibenci oleh Nabi. Diriwayatkan dari Jabir Radhiyallahu 'anhu, bahwa Rasulullah s.a.w bersabda:
إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا. وَإِنَّ أَبْغَضَكُمْ إِلَيَّ وَأَبْعَدَكُمْ مِنِّي يَوْمَ الْقِيَامَةِ الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ وَالْمُتَفَيْهِقُونَ. قَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ قَدْ عَلِمْنَا الثَّرْثَارُونَ وَالْمُتَشَدِّقُونَ فَمَا الْمُتَفَيْهِقُونَ: قَالَ: الْمُتَكَبِّرُونَ

"Sesungguhnya orang yang paling aku cintai di antara kalian dan yang paling dekat kedudukannya denganku pada hari kiamat kelak, yaitu orang yang terbaik akhlaknya. Dan orang yang paling aku benci dan paling jauh kedudukannya dariku pada hari kiamat kelak, iaitu tsartsarun, mutasyaddiqun dan mutafaihiqun". Sahabat bertanya : "Ya, Rasulullah. Kami sudah mengetahui arti tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa arti mutafaihiqun?" Beliau menjawab,"Orang yang sombong." - Hadith sahih: Diriwayatkan oleh Imam Al- Tirmidzi, no. 2018.

1.الثَّرْثَارُونَ: Banyak bicara dengan pembicaraan yang menyimpang dari kebenaran.

2.الْمُتَشَدِّقُونَ: Kata-kata yang meremehkan orang lain dan berbicara dengan suara lagak untuk menunjukkan kefasihannya dan bangga dengan perkataannya sendiri.

3. الْمُتَفَيْهِقُونَ: Berasal dari kata al fahq, yang berarti penuh. Maksudnya, seseorang yang berbicara keras, panjang lebar dan disertai dengan perasaan sombong. Serta menggunakan kata-kata asing untuk menunjukkan, seolah dirinya lebih hebat dari yang lainnya.

Imam Al-Tirmidzi juga meriwayatkan dari 'Abdullah bin al Mubarak rahimahullah mengenai maksud akhlak yang mulia. Ia berkata,"Yaitu bersikap ramah, memberikan kebaikan kepada orang lain, serta tidak mengganggunya."


No comments: